Penjelasan Kominfo Soal Maraknya Keluhan STB Buruk Setelah Siaran TV Analog Dimatikan : Okezone techno

Posted on

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (info com) Menanggapi banyak keluhan masyarakat tentang kualitas set-top box (STB), perangkat ini dirancang untuk mengubah siaran TV digital menjadi TV analog.

Direktur Standardisasi Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Mulyadi, mengakui tidak semua produk STB mampu mengonversi siaran TV digital di Indonesia dengan baik.

Hanya STB yang mendukung transmisi video digital – terestrial generasi kedua (DVB-T2) yang dapat digunakan di negara ini. DVB-T2 adalah standar terbaru untuk siaran TV digital termasuk transmisi audio, video dan data.

Untuk memastikan bahwa STB DVB-T2 yang diedarkan memenuhi berbagai persyaratan teknis dan peraturan, Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan proses sertifikasi.

“Hanya STB bersertifikat yang boleh diperdagangkan, dibuat, dirakit, diimpor dan/atau digunakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya kepada MPI, Kamis (10/11).

Acuan sertifikasi adalah Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 4 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi Dalam Rangka Penyiaran Program TV dan Radio dan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 3 Tahun 2014 Informasi mengenai persyaratan teknis untuk sistem peringatan dini bencana alam untuk penerima dan perangkat televisi terestrial generasi kedua.

STB juga wajib memiliki sertifikat TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dari Kementerian Perindustrian dan lulus uji Kompatibilitas Elektromagnetik (EMC) dari Balai Besar Bahan dan Barang Teknis (B4T) Kementerian Perindustrian, Bandung.

Mulyadi memastikan seluruh penyelenggara STB melalui proses perizinan usaha berbasis risiko melalui sistem Single Submission (OSS) online. Seluruh proses sertifikasi dilakukan secara terbuka melalui portal e-sertifikasi Kemenkominfo di

“Oleh karena itu kita harus berhati-hati sebelum membeli perangkat STB. Beli saja yang sudah bersertifikat sesuai spesifikasi dengan siaran televisi digital di Indonesia dan jangan kecewa,” kata Mulyadi.

Secara terpisah, Entin, 54, warga RT 15/07 Taman Harapan, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, mengaku STB gratis yang diterimanya dari kantor desa telah dirusak. Kemudian dia membeli STB sendiri.

“Tapi saya tidak bisa menerima beberapa program TV. Sudah dirusak,” keluhnya.

Nuryati, 55, warga Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, mengeluhkan kualitas gambar siaran TV digital melalui STB tidak bagus.

“Sangat sulit untuk mendapatkan pertunjukan. Saya sudah mencarinya berkali-kali tapi tetap hanya mendapatkan 3 saluran TV,” kata Nur.

Dia terpaksa membeli antena baru, meskipun masih ada masalah dengan saluran yang tiba-tiba menghilang.

Rizki, 25, warga Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, bahkan tidak mendapatkan satu pun saluran TV meski sudah menggunakan STB dan mengganti antena.

“Menulis dilanjutkan dengan ‘tidak ada sinyal’. Sudah berkali-kali dihentikan,” katanya.

Demikian pula Saidi, 35 tahun, tinggal di kawasan Ketapang, Pasar Minggu.

“Ternyata tidak lebih baik (daripada analog). Gambarnya bening tapi sering retak padahal pakai STB,” keluhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *