Rencana Ilmuwan Redupkan Sinar Matahari untuk Lawan Krisis Iklim : Okezone techno

Posted on

JAKARTA – Sebuah bundel ilmuwan Harvard berencana untuk mengatasi krisis iklim dengan gerhana matahari. Proyek ambisius ini akan dilakukan dengan menggunakan metode geoengineering.

Nantinya, sinar matahari akan terhalang sehingga pemanasan global bisa dikurangi dan ada harapan bumi bisa bertahan. Proyek ini disebut Stratospheric Controlled Perturbation Experiment (SCoPEx).

SCoPEx, diolah Forbes pada Kamis (1/12/2022), akan menghabiskan US$3 juta (Rp47,2 miliar) untuk menguji model tersebut dengan meluncurkan balon berkemudi sejauh 20 kilometer ke stratosfer di barat daya Amerika Serikat.

Balon melepaskan partikel kecil kalsium karbonat. Inspirasi dari eksperimen ini adalah bagaimana efek letusan gunung berapi yang besar dapat mempengaruhi suhu planet secara signifikan.

Diketahui bahwa pada tahun 1991, Gunung Pinatubo di Filipina meletus secara spektakuler, melepaskan 20 juta ton sulfur dioksida ke stratosfer.

Sulfur dioksida membentuk selimut di sekitar stratosfer bumi dan mendinginkan seluruh planet sebesar 0,5 derajat Celcius selama sekitar satu setengah tahun. Ilmuwan berharap pantulan dari musim gugur ini akan memungkinkan suhu bumi turun dan mengatasi fenomena pemanasan ekstrim.

Ilmuwan, lembaga pemerintah di seluruh dunia, dan kelompok lingkungan semakin mengkhawatirkan kemampuan manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membendung krisis iklim. Mereka mengatakan mengurangi emisi gas di Bumi itu sulit dan cara yang lebih diterima adalah gerhana matahari.

Untuk mengurangi efek samping, tim peneliti Harvard akan menyemprotkan partikel kecil kapur (kalsium karbonat) ke stratosfer secara terkendali. Meski kemungkinan dampak negatifnya belum diketahui sepenuhnya, namun cara ini dinilai aman dan dapat menekan biaya.

Sebuah laporan baru-baru ini oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperkirakan bahwa pelepasan partikel yang berkelanjutan ke stratosfer dapat mengimbangi pemanasan 1,5 derajat Celcius sebesar $1 miliar hingga $10 miliar per tahun.

Membandingkan biaya ini dengan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil atau penyerapan karbon secara global membuat metode ini sangat menarik.

Oleh karena itu, para ilmuwan, lembaga pemerintah, dan penyandang dana independen dari teknologi ini harus menyeimbangkan keefektifan biaya dan keefektifan metode ini dengan potensi risiko terhadap tanaman global, kondisi cuaca, dan kekeringan.

Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk sepenuhnya mengkarakterisasi risiko adalah melakukan eksperimen dunia nyata, seperti yang dilakukan tim Harvard.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *